Bismillah..
Teringat kembali akan usia yang semakin bertambah, mengukur seberapa jauh kedewasaan berkembang. Pagi ini aku merasa diingatkan pada pagi-pagi ketika masih bersama D, seseorang yang pernah mengisi hidupku.Aku berjalan bersamanya, dalam kebimbangan dan rasa ingin diperhatikan. Aku meragu pada hubungan yang kami jalani, bukan karena faktor kapasitas perasaan kami, tapi tentang bagaimana hubungan yang kami jalani bertentangan dengan nuraniku.Ya, berpacaran yang kumaksud. Antara berbahagia karena aku memilikinya untuk mengisi hatiku, dan bersedih karena hati kecilku terus mengingatkan ini adalah bagian dari pengikisan akhlak yang seharusnya kupertahankan.
Atas kehendak Allah, setelah empat tahun menjalin hubungan, dia pergi meninggalkanku. Tanpa pamit, dan tak berkabar apapun setelahnya. Benar-benar pergi. Awalnya aku khawatir, bersedih, lalu kecewa, dan marah pada akhirnya. Aku merasa terabai dan terbuang setelah D tidak membutuhkanku lagi. Kondisi itu berlangsung selama hampir setahun.
Bagaimana Allah memperlakukanku seperti itu, membuatku tersadar, Allah ingin aku kembali padaNya. Seperti dulu, ketika hanya Dia tempatku bersandar, berkeluh kesah, mengadu, berharap, dan meminta petunjuk serta pertolongan untuk setiap problematika yang aku hadapi. Dan aku bersyukur, D pergi meninggalkanku.
Sekarang setelah dua puluh tiga tahun menempuh kehidupan yang sangat berliku, aku menetapkan diri untuk kepadaNya sajalah diri ini kembali. Dan setiap usahaku mendapatkan apa yang aku inginkan tak pernah luput dari apa yang Allah ajarkan. Betapa Dia menyayangiku, lebih dari diriku sendiri. Karena pembelajaran yang Allah beri, tak pernah sia-sia.